<>
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
<er>

Mengenal Profesi Human Capital, Apa Bedanya dengan Human Resources?

Pernah dengar istilah Human Capital? Kalau Anda buka portal lowongan kerja, ada ribuan perusahaan yang merekrut karyawan di posisi ini. Jangan salah paham, Human Capital itu agak berbeda dengan Human Resource.

Secara singkat, Human Resource melihat karyawan sebagai sumber daya manusia. Sementara itu Human Capital memandang karyawan sebagai aset. Ini artinya. Human Capital memandang SDM sebagai kunci organisasi, sementara Human Resource memandang SDM hanya sebagai pendukung.


Lantas, apa saja perbedaan lain dari keduanya? Simak penjelasannya di bawah ini.

Perbedaan Human Capital (HCM) dan Human Resources (HRM)
  • HRM memandang manusia sebagai sumberdaya, sementara HCM memandang manusia sebagai aset
  • HRM memandang fungsi karyawan sebagai pendukung perusahaan mencapai laba, sementara HCM memandang karyawan sebagai kunci tumbuhnya perusahaan
  • HRM memandang tenaga kerja akan habis masa fungsinya seiring berjalannya waktu, sementara menurut HCM, karyawan bisa semakin bernilai seiring berjalannya waktu
  • HRM berusaha mengoptimalkan kinerja karyawan, sementara HCM mendorong karyawan memiliki value lebih
  • HRM berfikir bahwa karyawan adalah biaya, sementara HCM berfikir bahwa karyawan adalah investasi
  • HRM mengukur karyawan dari kinerja, HCM mengukur karyawan lewat pengembangan nilai

Jobdesk Profesi Human Capital

1. Pengukuran Beban Kerja

Seorang Human Capital bertugas menganalisa kebutuhan suatu perusahaan terhadap karyawan baru. Perlu dilakukan Workload Analysis di setiap departemen secara berulang-ulang.

Selain itu, Human Capital juga perlu menentukan apakah perlu kebijakan overtime bagi beberapa karyawan. Kemudian, berdiskusi juga dengan atasan untuk menentukan biaya yang disepakati untuk jam lembur.

Lewat keputusan yang tepat, Human Capital lah yang akan memutuskan apakah karyawan tersebut ditambah jam kerja atau dimutasi ke bagian lain agar profit perusahaan bisa maksimal.

2. Rekrutmen

Nah, setelah diperoleh data beban kerja, kemudian Human Capital akan melakukan proses rekrutmen. Mulai dari pemasangan iklan di media massa atau mencari kandidat lewat referensi.

Namun, ada kalanya proses rekrutmen butuh waktu lama. Nah, seorang Human Capital bisa mempersingkat waktu dengan mencari data kandidat karyawan di arsip calon pelamar.

Perusahaan besar seringkali mengikutsertakan bagian Human Capital di berbagai kegiatan job fair untuk mempersingkat proses seleksi kerja.

3. Menciptakan Budaya Positif

Lingkungan yang positif jelas akan mendukung produktivitas dan perkembangan perusahaan. Sebaliknya, lingkungan kerja yang buruk menurunkan semangat dan membuat karyawan rentan mengundurkan diri.

Berbagai cara bisa dilakukan Human Capital untuk menciptakan tujuan ini. Bisa dengan mengadakan agenda kumpul bersama, mengadakan event-event seru dan lain sebagainya. Hendaknya Human Capital juga menjaga agar tidak adanya persaingan tidak sehat diantara karyawan.

4. Memutuskan Tanggung Jawab Pekerjaan Karyawan

Tidak berhenti di proses rekrutmen, seorang Human Capital perlu menentukan bagaimana tanggung jawab masing-masing karyawan.

Setiap karyawan tentu memiliki tanggung jawab berbeda berdasarkan posisinya. Nah, Human Capital akan memberikan lembaran Job Description pada setiap karyawan sebelum tanda tangan kontrak.

Job Description hendaknya ditulis dengan jelas beserta larangan dan kewajiban.

5. Memberikan Feedback Kinerja

Human Capital akan mengukur kinerja karyawan di setiap departemen. Inilah kenapa perlu diciptakan sistem yang tepat untuk mengukur kinerja karyawan.

Nah, hasil penilaian ini dapat membantu perusahaan menentukan, apakah perlu adanya agenda pengembangan karyawan berupa seminar atau workshop.

Hasil penilaian ini tidak jarang disampaikan dalam rapat, bertujuan memberikan feedback agar seluruh karyawan lebih baik.

6. Mengefisiensi Pekerjaan Lewat Teknologi

Pekerjaan yang berhubungan dengan pengembangan sumberdaya manusia memang tantangan yang sangat berat.

Oleh karena itu, perusahaan membolehkan Human Capital menggunakan teknologi tertentu demi efisiensi.

Misalnya, dengan menggunakan software tertentu untuk membantu manajemen perusahaan lebih mudah.

7. Validasi Data Karyawan

Sama seperti Human Resource, seorang Human Capital berperan dalam validasi data karyawan. Mulai dari absensi, penggajian, klaim jaminan sosial hingga bantuan dari pemerintah.

Validasi data ini seringkali memakan banyak waktu sehingga perlu ketelitian tingkat tinggi. Human Capital pun perlu pengetahuan luas soal ketentuan pendaftaran jaminan sosial, juga tidak boleh telat menyampaikan informasi soal bantuan pemerintah ke karyawan.

Syarat Bekerja Sebagai Human Capital

Sebenarnya lulusan dari berbagai jurusan sangat boleh apply kerja sebagai Human Capital. Asalkan punya riwayat berorganisasi di bidang Human Development, maka Anda bisa coba lamar.

Namun, tentu saja lulusan jurusan Psikologi punya nilai plus apabila bekerja di bidang ini. Kemampuan analisa sifat dan perilaku diperlukan agar peningkatan ROI (Return of Investment) berjalan lebih efektif.

Seorang lulusan Sistem Informatika dan Akuntansi pun sangat dipertimbangkan bekerja sebagai Human Capital. Kemampuan menggunakan software absensi atau penggajian akan dimudahkan apabila Anda datang dari lulusan tersebut.

Antara Human Capital dan Human Resource sebenarnya mirip, tetapi ada perbedaan mendasar diantara keduanya. Ketahui lebih dini agar Anda bisa lancar menjalani profesi di bidang tersebut.

Tertarik melamar posisi Human Capital? Bisa kunjungi portal lowongan kerja, seperti Kita Lulus. Tersedia puluhan ribu lowongan kerja terbaru dari berbagai perusahaan terbaik di seluruh Indonesia.

Nah, bagi Anda yang sudah menjalani profesi Human Capital maupun Human Resource dan tertarik pasang iklan lowongan kerja yang banyak peminat, bisa juga menghubungi Kita Lulus. Pemasangan GRATIS, tanpa batas lowongan!